Sabtu, 26 Oktober 2013

Demokrasi



Sejarah kelam demokrasi indonesia





Sejak pemerintahan presiden soeharto tahun 1966 yang dikenal dengan pemerintahan orde baru. Soeharto melakukan eksperimen dengan menerapkan demokrasi pancasila, dengan tujuan untuk menegakkan kembali asas negara hukum yang dirasakan oleh segenapa warga negara, Hak asasi manusia baik dalam kolektif maupun perseorangan dan menghaindari penyalahgunaan kekuasaan dan tata kerja orde baru terlepas dari kepentingan pribadi. Namun pada praktek nyatanya banyak terjadi penyelewengan, kekuatan polotik dijinakkan agar tidak berkomitmen untuk menjadi kontrol sosial. Kebebasan berpendapat juga sangat dibatasi. budaya feodalistik dan paternalistik tumbuh sangat subur, menganggap pemimpin paling tau dan paling benar dan rakyat hanya patuh dengan pemimpin. Bagi mereka demokrasi tidak lebih dari sebuah perhiasan yang dipertontonkan keluar negeri bahwa indonesia telah benar-benar berdemokrasi, padahal sebenarnya adalah kekuasaan yang otoriter.
berbagai tekanan dari rakyat dan cita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur membuat pemerintahan orde baru krisis kepercayaan dan akhirnya mengalami keruntuhan.
Orde reformasi yang telah disempurnakan oleh presiden habibie menyuburkan kembali alam demokrasi di negara indonesia dengan adanya kebebasan pers dan kebebasan berbicara. Membangun kembali demokrasi dengan dilakukannya kepartaian yang sehat dan pemilu yang transparan, sistem pemilu multi partai dan UU politik yang demokratis sehingga pemerintahan yang KKN dapat dihindari.

perkembangan demokrasi yang diteruskan oleh presiden Abdul Rohman Wahid sampai presiden SBY dampaknya sangat segnifikan, aspirasi rakyat dapat bebas diutarakan, walaupun masih ada praktek-praktek KKN, namun stidaknya rakyat tidak mau dibohongi lagi. Walaupun dalam prakteknya negara ini masih jauh dari negara maju lainnya, yang membuat negara indonesia diakui dunia sebagai negara demokrasia adalah pemilihan langsung presiden maupun kepala daerah yang dilakukan secara langsung.
yang pasti negara indonesia masih menanti hasil dari demokrasi yang yang mempu membawa masyarakat yang adil dan makmur secara keseluruhan !

Rabu, 16 Oktober 2013

peran aktif dalam isu kewarganegaraan



Kalau bukan kita, siapa lagi ? :)



Disadari atau tidak, pemuda pemudi sekarang seakan mengabaikan makna dari nasionalisme. Bahkan anak-anak sekarang lebih senang dengan lagu pop, misalnya saja K-POP dan Band-band lainnya. Jarang dari mereka yang hafal lagu daerah, bahkan saya menjumpai anak yang belum hafal lagu Indonesia Raya.
belum lagi peristiwa yang sering terjadi antar pelajar, tawuran seakan menjadi rutinitas sehari-hari yang wajib dilakukan oleh pelajar. Banyak kita lihat di berita tentang anak dibawah umur yang mencuri dan seorang anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri.
Dengan keadaan seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab
sistem pendidikan, lingkungan, atau pribadi anak tersebut yang salah ?


Bukan hanya pendidikan formal, pendidikan non formal juga sangat berpengaruh.
kita bisa terjun langsung dalam masyarakat dengan berbagai cara.
sebagai seorang mahasiswa kita dituntut untuk berfikir secara kritis dalam berbagai hal. Banyak kita jumpai unit kegiatan mahasiswa yang aktif dalam kegiatan masyarakat, sebagai seorang mahasiswa kita bisa memanfaatkan organisasi tersebut, kita bisa mendirikan organisasi yang langsung terjun kemasyarakat. Contohnya dengan adanya oerganisasi, kita membuat sebuah perpustakaan keliling, mengumpulkan para anak-anak dan mengajari mereka tentang arti sebuah nasionalisme dengan sistem bermain dan belajar. Tidak perlu setiap hari, Kita bisa mengumpulkan anak-anak setiap hari minggu atau kita bisa mengunjungi sekolah-sekolah memberikan materi tambahan yang tidak tercantum dalam kurikulum mereka, tentunya masih dengan metode bermain dan belajar, agar apa yang kita berikan berbeda dengan apa yang mereka dapatkan dari guru yang ada dikelas mereka.


Kalau kita menunggu pemerintah menangani hal ini akan sangat sulit, lebih tepatnya peran aktif masyarakat dan mahasiswa sangat diperlukan dalam pencapaian visi misi pemerintah untuk mencerdaskan bangsa.

Jumat, 04 Oktober 2013

antara agama dan aparat negara



SEPARAH INI KAH ?
Akhir-akhir ini banyak terjadi pergesekan antara kelompok agama, salah satunya adalah kelompok sunni dan syi’ah. Seperti kejadian yang terjadi di Jember
“pada dasarnya kerusuhan tersebut bukan tentang sunni dan syi’ah, tapi lebih tepatnya adalah persaingan antar dua kelompok dalam bidang pendidikan.” Kata Dharma Ali


Setiap kelompok pasti beranggapan bahwa mereka yang paling benar, karena keduanya mempunyai alasan dan dasar tersendiri. Namun itu saja tidak cukup, kesannya mereka tidak berfikir secara kritis dan hanya menonjolkan nafsu belaka. Bukan hanya terjadi kerusuhan namun kasus ini juga menelan korban jiwa

 Karena fungsi negara adalah Mensejahterakan rakyat, Melaksnankan ketertiban, Pertahanan dan keamanan, yaitu perlindungan atas wilayah masyarakat dan Menegakkan keadilan. Seharusnya aparat pemerintahan lebih tegas dalam menangani masalah ini. Agar tidak semakin banyak kerusuhan antar kelompok agama lainnya.

Selasa, 01 Oktober 2013

NASIONALISME


KE-BHINEKA TUNGGAL  IKA-AN

 
Kita sering mendengar kata “BHINEKA TUNGGAL IKA” namun tak semua bisa memahami arti kata tersebut.  Menurut suhandi sigit dalam buku MPR RI (2009:181) kalimat ini ditemukan dalam kitab klasik karangan Empu Tantular “sutasoma”. Empu tantular sendiri adalah sebutan yakni “Empu” yang artinya cendekiawan atau pemikir. “Tan” yang artinya tidak, dan “tular” artinya terpengaruh. Maka empu tantulat adalah seorang cendekiawan yang berdiri tanpa pengaruh dari siapapun dan bagaimanapun

Pengertian Bhineka Tunggal Ika sendiri adalah Bhineka (beragam), Tunggal (satu), ika (itu) sendiri adalah semboyan bangsa dan negara yang tepampang jelas dibawah lambang negara indonesia (burung garuda). Landasan mengangkat semboyan ini adalah begitu banyaknya suku, ras, dan agama yang terdapat di Negara Indonesia ini.

Selama ini sifat nasioalisme kita kurang operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik. Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu suku, tetapi perku secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara-bangsa. 

Agar tujuan bisa terealisasikan adalah perlunya kader-kader bangsa yang berjiwa nasionalis, dan menghendaki perbedaan-perbedaan dan menghargainya. Dan dari situlah akan tercipta suatu keharmonisan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia